SUARA PENA JURNALIS: jacob ereste
Tampilkan postingan dengan label jacob ereste. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jacob ereste. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2022

Jacob Ereste: Sejarah Baru Telah Dibuat Xi Jinping Sungguh Menarik Bagi Pakde Lurah di Kampung Kami

BANTEN | Pakde saya sungguh terperangah mendengar berita keberhasilan Xi Jinping kembali bisa dikukuhkan menjadi petinggi partai di negerinya itu hungga bisa menyaingi ketangguhan Mao Zedong.

Sebagai Lurah di kampung kami, Pakde saya yang mewarisi secara kekuasaan secara turun temurun pun berujar ingin juga untuk menjabat kesekian kalinya menjadi Lurah agar record kepemimpinan bisa terpecahkan menjadi catatan sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak kakek buyut kami dulu berkuasa.

Pemberitaan tendang Presiden Xi Jinping yang terpilih kembali sebagai Sekretaris Jendral Partai Komunis China  untuk ketiga kalinya ini sungguh membuat Pakde terpesona rakjub, sebab dirinya pun sedang mimpi juga tentang  skenario yang sama seperti kepiawaian  Xi Jinping, sehingga orang tak perlu mempersoalkan lagi apakah dia sungguh pernah nyantrik madrasah Ujung Gunung Mahligai yang ada di kampung kami, atau tidak. Karena realutasnya dis sudah menjabat sebagai Lurah sampai mentok.

Jabatan Sekjen Partai Komunis China itu memang otomatis akan jadi penguasa Partai, sekaligus menjadi  pemimpin pemerintahan di negeri China. Jadi begitulah pakemnya, LI Qiang Perdana Merteri yang baru pun bisa segera dipasan seperti budak catur yang dikehendaki oleh yang memainkan permainan itu.

Jado legalitas partai politik yang bisa diatur untuk memberi leges dari keabsahan kekuasaan tetap dalam genggaman Xi Jinping, meski diam-diam ingin juga dipraktekkan oleh Pakde untuk menata kampung kami yang di klaim  juga cukup adil dan makmur.

Seperti Xi Jinping, Pakde pun mengklaim pembangunan yang dilaksanakan di kampung kami  berjalan bagus dan mulus membuahkan hasil untuk warga masyarakat yang sesekali diberi bantuan sosial agar tidak semakin miskin.

Realirasnya, Xi Jinping memang berhasil menjadikan China Komunis menjadi sosialis modern dalam segala hal dengan cara rakyat dari semua lini untuk terus maju menuju modernisasi. Istilah terakhir ini agaknya, semacam sopan santun dalam bertutur untuk tidak menyebut kapitalisme yang acap dimaki-maki di berbagai tempat yang lain.

Dibawah keprmimpinan Xi Jinping babak ke ketiga periode kekuasaannya yang ekstra ini menunjukkan model kekuasaan membangun kelangsungan atas nama  pembangunan bagi rakyat yang kelak akan terus berkembang dan menjadi model di negeri lain. Meski  China jelas kngin membangun masyarakat yang modern dalam segala bentuk. Dan Xi Jinping semakin patut untuk dinobatkan sebagai pemimpin paling kuat dan ampuh dalam ketatanegaraan model mutakhir.

Sejarah bangsa China setelah Moa Zedong telah membuat lembaran sehlharah baru. Hingga hari ini, Minggu 23 Oktober 2022, Xi Jinping akan dikukuhkan secara resmi sebagai Sekretaris Jendral Partai Komunus China dan otomatis akan menjadi Presiden Republik Rakyat China untuk lima tahun ke depan seiring dengan jabatan tertingginya di Partai. Kecuali itu, dia pun menjadi kepala militer di negeri berpenduduk paling banyak di bumi ini.

Usaha Xi Jinping menghapus batasan untuk menjadi presiden hanya dua periode telah dilakukannya pada tahun 2018,  jauh sebelum keinginan dirinya untuk berkuasa lagi yang kemudian nyata bisa dia lakukan  untuk  dimanfaatkan berkuasa sejehendak hatinya di negeri komunis itu.

Karenanya, tradisi kekuasaan tanpa batas sudah dimulai, meski di kampung kami baru mau dirintis. Sementara waktu pemilihan Lurah  sudah sedemikian dekat. Tapi toh, tak ada kata terlambat bagi yang berkeinginan  mengekspresikan nafsu kekuasaan yang terlanjur memabukkan.

Banten, 23 Oktober 2022

Minggu, 06 November 2022

Jacob Ereste: Menilik Seriusnya Polri Mereformasi Diri

BANTEN | Minggu 4 September 2022, Patut diakui dan mendapat apresiasi yang bagus berkat peran aktif media sosial “Drama Dari Duren Tiga” bisa semakin terang terungkap. Peran media sosial ini tentunya bukan semata dilakukan jurnalis saja, tapi juga sumbangan pemikiran dan pendapat yang bagus dari warga masyarakat, tidak hanya dari mereka yang terbilang pengamat atau Pemerhati khusus masalah kriminal maupun sosial kemasyarakatan. Sebab peran banyak pihak meski yang cuma mempertanyakan saja masalah kasus per kasus tersebut atau dari episode-episode tertentu dalam rangkaian kejadian yang saling terkait antara yang satu dengan bagian lainnya, cukup penting dan besar pula peranannya.

Begitulah kontrol sosial dari warga masyarakat yang mendambakan tegaknya kebenaran demi keadilan. Setidaknya, bagi keluarga korban, bisalah sedikit terhibur dari kesedihan seperti yang dirasakan juga oleh banyak orang.

Karena itu perlu juga diapresiasi tekad Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo yang serius melakukan bersih-bersih ditubuh Polri, hingga geliatnya tampak dan terasa di berbagai tingkatan dan daerah didalam struktur Polri dengan beragam aktivitas dan kegiatan yang semakin nyata diwujudkan dalam tugas pokoknya memelihara keamanan, menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, oengayinan serta pelayanan bagi masyarakat.

Di Jawa Timur misalnya ada Kapolres yang langsung siap dan bersiaga untuk mengamankan gejolak dari rencana kenaikan harga BBM. Di Tangerang, Banten pun ada dari jajaran Kapolres yang menunaikan tugasnya melintas batas hingga ke Aceh untuk ikut memudahkan ladang ganja yang dianggap bagian dari obat terkarang. Bahkan, Kapolres Bandara Soekarno Hatta sudah ditindak dengan sanksi PTDH (Pemberhentian Tugas Dengan Tidak Hormat) (Motivindonews, 2022/08/31).

Hasil penelisikan Atlantika Institut Nusantara selama ini, meyakinkan sejak sebulan lalu — selama Agustus 2022 — tiada hari tanpa berita dari Kepolisian. Karena itu Atlantika Institut Nusantara memilih satu hari yaitu tanggal 2 September 2022 untuk menilik pemberitaan J

Kepolisian yang tidak terkait langsung dengan kasus “Drana Dari Duren Tiga”, untuk melihat seriusnya Pihak Kepolisian berharap untuk melakukan pembenahan besar atau reformasi ditubuh Polri.

Banten, 2 September 2022

JACOB ERESTE: Masyarakat Adat Menduduki Lahan Sawit Sengketa di Talang Batu

LAMPUNG | Ratusan masyarakat adat Buay Mencurung Mesuji menduduki lahan seluas 5.000 hektar yang bersengketa dengan PT Sumber Indah Perkasa (SIP), anak perusahaan Sinar Mas Grup yang berada di Kampung Talang Batu, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji Lampung  hari ini (6/11).

Saidi, Koordinator aksi mengungkapkan Masyarakat adat menuntut PT SIP untuk mengembalikan lahan seluas 4.345 hektar yang telah dikelola perusahaan sejak tahun 1990. Persoalannya pihak perusahaan belum mengganti rugi lahan - lahan masyarakat sampai sekarang. 

Aksi pendudukan masyarakat dilakukan karena sudah berkali - kali melakukan aksi protes mulai dari depan Istana Presiden, Kantor BPN ATR RI, dan DPD RI dan lainnya. Respon berbagai pihak cukup terbuka namun tidak memperlihatkan hasil yang jelas.

"Aksi protes yang dilakukan hari ini akan terus berlanjut sampai tuntutan terpenuhi" tutup Saidi.

Jacob Ereste: Generasi Muda Dalam Alih Generasi Yang Sungsang

BANTEN | Pemuda adalah harapan bangsa,  itu dahulu. Sekarang mungkin  sebagai nyanyian pun sudah dianggap usang yang tidak lagi memiliki  makna apa-apa, kecuali kenangan belaka, seperti waktu Soempah Pemoeda yang diikrarkan penuh heroik pada 28 Oktober 1928 yang nyaris satu  abab lalu itu sejarahnya.

Lalu adakah acara yang digagas pemuda pada peringatan hari ini, atau semacam upacara resmi yang dilakukan oleh pemuda itu sendiri saat memperingati  hari Soempah Pemoeda ?

Agaknya, semua acara yang sudah dilakukan -- hanya sekedar untuk memperingati momentum sejarah 94 tahun silam itu saja  -- yang nyaris tak ada yang dilahirkan atau muncul dari gagasan kalangan pemuda itu sendiri -- jadi ada semacam peralihan semangat Pemuda yang masih digenggang oleh mereka yang tua.

Dan pemuda -- kalau boleh disebut untuk mereka yang berusia 15 - 30 tahun, jelas meliputi adik-adik yang masih sekolah di  SMP, SMA dan mahasiswa serta jutaan jumlah mereka yang sedang menjadi pengangguran, karena tidak kebagian pekerjaan. Mereka semua adalah manusia yang paling pantas menginisiasi semua aktivitas dan kegiatan yang berkaitan dengan peringatan hari Soempah Pemoeda pada setiap tanggal 28 Oktober seperti hari ini yang lumayan semarak, meski tak semua mengungkap ruh dan jiwa pemuda yang relevan dengan nilai-nilai heroisme serta perjuangan yang tersirat dari tekad ikrar satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa yaitu Indonesia, ketika itu.

Realitasnya pada hari ini, pemuda Indonesia telah memiliki keasyikan sendiri. Kecuali mencari ilmu di sekolah dan universitas atau akademi, mereka lebih sibuk membekali diri untuk  memasuki dunia kerja yang super ketat persaingann ya lantaran lapangan kerja tak sebanding dengan angkatan kerja yang terus bertumbuh tanpa pernah diantisipasi cara mengatasinya. Tenaga kerja dan sedikit diantara mereka yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk bekerja mandiri tiada tergantung pada pihak lain, juga tidak banyak.

Orientasi dari sekolah dan kuliah pun adalah untuk membidik bidang pekerjaan yang gampang -- dan kalau bisa -- cepat lulus, mudah mencari kerja dan bergaji besar, tanpa kerja terlalu payah. Artinya sangat praktis dan simpel, karena lapangan kerja pun tidak cukup tersedia bagi mereka, termasuk bagi mereka yang menempuh pendidikan siap pakai, lantaran lapangan kerja memang tidak cukup serius dipersiapkan untuk mereka.

Karena itu pun, semangat kerja serabutan terpaksa dilakukan. Yang berbasis ilmu teknik bekerja di bidang hukum, yang punya ilmu  hukum bekerja di perbengkelan. Atau sebaliknya. Sementara warga masyarakat kebanyakan -- utamanya kaum tua -- maunya pemuda Indonesia lebih kreatif, lebih inovatif bahkan lebih infentif agar bisa menjadi garda terdepan dari perintis, perombak dan penjebol seperti istilah heroiknya Soekarno yang selalu mengidolakan pemuda itu berjiwa revolusioner di dalam segala bidang kehidupan.

Ironisnya, dukungan nyata untuk para pemuda Indonesia tidak cukup banyak diberikan-- atau bahkan sangat amat sedikit -- misalnya seperti sejumlah gelanggang remaja yang dikira cukup dibuatkan begitu saja tanpa dukungan dan dorongan dengan berbagai bentuk  sehingga mereka sebagai kawula muda bisa lebih bergairah melakukan aktivitas positif guna membekali diri mereka agar bisa lebih tangguh dan menghadapi masa depan yang lebih kompleks tantangannya di era milineal sekarang ini.

Meletakkan harapan bangsa kepada pemuda tidak lagi bisa diidolakan seperti pada era sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan dengan situasi dan kondisi yang harus mereka hadapi sekarang. Karena kondisi dan situasinya sudah berubah, sementara harapan yang ditumpukan pada pundak pemuda tetap sama ideal seperti semangat berjuang saat ingin merebut kemerdekaan tempo doeloe.

Pada era milineal sekarang ini ceritanya sudah lain, tak lagi seperti dahulu. Sekarang para pemuda kita sibuk mencari peluang dan kesempatan membangun karier maupun profesi pekerjaan yang akan mereka tekuni untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang lebih praktis dan gampang,  bagaimana agar secepat mungkin memiliki basis material yang cukup meski tak harus kaya raya seperti mereka yang sudah mampu merebut dunia.

Artinya, orientasi materialisme telah menjadi basis pemikiran mereka  sejak sekolah dan kuliah, sebab bila tidak maka dirinya akan dianggap gagal atau ketinggalan jaman  dan tak layak hidup di jaman now.

Begitulah realita pemuda Indonesia  sekarang. Sebab waktu bertemu dengan sanak saudara mereka sendiri yang utama dan dominan jadi pertanyaan adalah seputar kesuksesan dalam pekerjaan. Jabatan, gaji dan fasilitas apa saja serta sudahkah memiliki rumah. Selebihnya adalah kendaraan yang sudah dimiliki sekarang.

Jadi kondisi dan situasi immaterial bisa dianggap tak terlalu penting lantaran tidak pernah menjadi orientasi utama. Misalnya tentang si Badu yang baru saja menyelesaikan sekolah di Kairo atau Havard University. 

Sejujurnya pun, orang tua sudah merasa lebih dari cukup memenuhi keperluan materi yang diperlukan sang anak. Hingga kondisi dan situasi di sekolah atau universitas tempatnya menimba ilmu tidak memiliki tempat untuk ikut menjadi perhatian.  Karena yang bersifat keilmuan pun tidak dianggap penting, kecuali cepat selesai, lekas mendapat pekerjaan lalu secepatnya menikah, agar tidak lagi menjadi beban orang tua

Cermin dari sepi dan kerontangnya gelandang remaja,  sama dan senada dengan ironisnya kegiatan ekstra di kampus perguruan tinggi yang semakin jauh dari semangat pengabdian pada masyarakat sebagai bagian dari dasar statuta perguruan tinggi yang orientasinya pun telah condong pada bisnis bahkan bergaya pasar bebas. Hingga ijazah pun dapat diperjual-belikan.

Jadi semacam peradaban petani dan nelayan yang kini terkesima dari iming-iming pasar dan dunia industri  yang melupakan basis budaya para leluhur yang pernah berjaya pada masanya sebagai pekerja merdeka di lahan miliknya sendiri.

Karenanya hanya mimpi-- atau sekedar basa-basi belaka -- berharap dan meneriakkan bahwa pemuda Indonesia menjadi  penggalang persatuan dan kesatuan bangsa yang terancam ambruk akibat ulah generasi tua yang juga asyik dengan dirinya sendiri. Agaknya, begitulah kondisi pemuda Indonesia hari ini dalam  peralihan generasi yang sungsang, terkahir di jaman yang serba kacau. 

Banten, 28 Oktober 2022

Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi